Penjualan smartphone di China pada bulan Maret lalu mengalami peningkatan sebesar 6,5 persen secara tahunan menjadi 22,73 juta unit, namun kini merek-merek China mendominasi pasar dengan pangsa 92 persen. Data terbaru ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam lanskap industri smartphone China, di mana merek-merek lokal semakin kuat sementara pemain asing, terutama Apple, menghadapi tantangan yang semakin besar. Penurunan pengapian smartphone non-China, khususnya dari Apple, menjadi perhatian utama, dengan angka anjlok hingga 25 persen pada kuartal pertama tahun ini, memicu spekulasi mengenai kemungkinan diskon yang lebih dalam untuk model Pro Apple menjelang festival belanja 618 yang dinanti-nantikan.
Pergeseran ini bukan hanya sekadar fluktuasi bulanan; ini adalah tren yang mengakar yang mencerminkan dinamika kompleks dalam pasar smartphone China. Data dari China Academy of Information and Communications Technology (CAICT) untuk bulan Maret 2025 menunjukkan bahwa total pengapian smartphone meningkat 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 22,73 juta unit. Namun, di balik angka pertumbuhan keseluruhan ini, terdapat narasi dominasi yang jelas: merek-merek China menguasai 92 persen dari volume tersebut, meninggalkan vendor non-China, yang didominasi oleh Apple, hanya dengan 1,85 juta unit. Angka ini merupakan penurunan drastis dibandingkan dengan pengapian setahun sebelumnya, menunjukkan erosi posisi Apple di pasar yang dulunya menjadi benteng kekuatannya.
Gambaran kuartalan juga mengonfirmasi tren yang sama. Dari Januari hingga Maret, pengapian smartphone secara keseluruhan meningkat 3,3 persen menjadi 69,67 juta unit. Meskipun demikian, merek-merek China mengalami pertumbuhan yang mengesankan sebesar 9 persen, sementara pesaing asing mengalami penurunan lebih dari 25 persen. Kontribusi merek asing terhadap total pengapian hanya sekitar 8 persen, atau 1,85 juta unit, dengan Apple menyumbang sebagian besar dari segmen tersebut. Ironisnya, meskipun Apple masih memegang pangsa yang signifikan, lembaga riset Counterpoint Research justru menempatkan Huawei, Vivo, Xiaomi, dan Oppo di atas iPhone maker dalam hal popularitas dan pangsa pasar. Ini menyoroti pergeseran preferensi konsumen dan kemampuan merek-merek China untuk berinovasi dan bersaing secara efektif di pasar domestik.
Beberapa faktor telah berkontribusi pada tekanan yang dihadapi Apple di China. Kebijakan pemerintah, khususnya subsidi “beli-baru” sebesar 15 persen yang diterapkan secara nasional, memainkan peran penting. Kebijakan ini, yang dirancang untuk mendorong konsumsi dan mendukung industri lokal, hanya berlaku untuk perangkat dengan harga di bawah 6.000 yuan (sekitar 832 dolar AS). Apple, dengan model iPhone 16 standarnya yang dimulai dari 5.999 yuan (sekitar 832 dolar AS), secara teknis memenuhi syarat untuk subsidi tersebut. Namun, model Pro Apple, yang menawarkan fitur dan spesifikasi yang lebih canggih, harganya berada di atas ambang batas ini, sehingga tidak memenuhi syarat untuk subsidi.
Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan kompetitif, di mana merek-merek China, dengan harga yang umumnya lebih rendah, dapat menawarkan nilai yang lebih baik kepada konsumen yang sadar anggaran. Menjelang festival belanja 618 yang sangat penting, Apple dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk menawarkan diskon yang lebih dalam pada model Pro-nya sebagai upaya untuk mempertahankan daya saing dan merangsang permintaan. Festival belanja 618, yang dinamai berdasarkan tanggal 6 Juni, adalah salah satu acara belanja online terbesar di China, yang sering dibandingkan dengan Black Friday di Amerika Serikat. Diskon besar-besaran dan promosi agresif selama festival ini dapat secara signifikan memengaruhi penjualan smartphone, dan Apple menyadari bahwa ia perlu mengambil tindakan untuk tidak tertinggal.
Dampak erosi pangsa pasar Apple terlihat jelas dalam laporan keuangan perusahaan. Greater China, yang mencakup China daratan, Hong Kong, Taiwan, dan Makao, menyumbang 16,8 persen dari total pendapatan Apple pada kuartal fiskal kedua. Namun, pendapatan regional ini telah menurun selama tujuh kuartal berturut-turut, menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Terakhir kali Apple mengalami pertumbuhan yang signifikan di China adalah pada awal tahun 2022, ketika penjualan melonjak dua digit. Penurunan berkelanjutan ini menunjukkan bahwa Apple menghadapi tantangan yang signifikan dalam mempertahankan posisinya di pasar China yang semakin kompetitif.
Meskipun Apple menghadapi tantangan, perusahaan ini masih memiliki kehadiran yang kuat di China. Ekosistem manufaktur dan jaringan ritel Apple di China tetap luas dan mapan. Namun, momentum pasar kini jelas mengarah pada merek-merek lokal, yang telah berhasil merebut hati konsumen China dengan kombinasi inovasi, harga yang kompetitif, dan pemahaman yang mendalam tentang preferensi pasar lokal.
Keberhasilan merek-merek China tidak dapat disangkal. Huawei, setelah menghadapi sanksi perdagangan dari pemerintah AS, telah bangkit kembali dengan cepat, memanfaatkan teknologi 5G dan inovasi dalam desain smartphone. Vivo dan Oppo, yang dikenal dengan fokus mereka pada kamera dan desain yang menarik secara visual, telah berhasil menarik basis pelanggan yang besar, terutama di kalangan konsumen muda. Xiaomi, dengan pendekatan “harga-untuk-kinerja”-nya, telah menawarkan smartphone yang sangat mampu dengan harga yang terjangkau, menarik bagi konsumen yang sadar anggaran.
Selain faktor-faktor ekonomi dan kompetitif, faktor geopolitik juga berperan dalam dinamika pasar smartphone China. Sentimen nasionalis yang meningkat di kalangan konsumen China telah mendorong preferensi untuk merek-merek lokal, yang dipandang sebagai simbol kebanggaan dan kemajuan teknologi China. Kebijakan pemerintah yang mendukung industri lokal juga memberikan keuntungan bagi merek-merek China, menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi mereka untuk berkembang.
Untuk mengatasi tantangan yang dihadapi di China, Apple perlu menyesuaikan strateginya. Selain menawarkan diskon yang lebih dalam pada model Pro-nya, Apple perlu berfokus pada inovasi yang relevan dengan kebutuhan dan preferensi konsumen China. Ini mungkin termasuk mengembangkan fitur yang memanfaatkan teknologi 5G, meningkatkan kemampuan kamera, dan menawarkan opsi penyimpanan yang lebih besar. Apple juga perlu memperkuat hubungannya dengan mitra lokal dan berinvestasi dalam pemasaran dan branding yang disesuaikan dengan budaya China.
Lebih lanjut, Apple perlu mempertimbangkan untuk menawarkan model yang lebih terjangkau untuk menarik konsumen yang sadar anggaran. Meskipun iPhone 16 standar memenuhi syarat untuk subsidi pemerintah, harganya mungkin masih terlalu tinggi bagi beberapa konsumen. Dengan memperkenalkan model yang lebih murah, Apple dapat memperluas jangkauan pasarnya dan meningkatkan daya saingnya.
Masa depan Apple di China tidak pasti. Perusahaan ini menghadapi persaingan yang semakin ketat dari merek-merek lokal, tekanan geopolitik, dan perubahan preferensi konsumen. Namun, dengan menyesuaikan strateginya, berinvestasi dalam inovasi, dan memperkuat hubungannya dengan mitra lokal, Apple dapat berpotensi merebut kembali pangsa pasarnya dan mempertahankan kehadirannya di pasar smartphone China yang penting.
Namun, satu hal yang jelas: era dominasi Apple di China telah berakhir. Pasar kini didominasi oleh merek-merek lokal, yang telah membuktikan bahwa mereka mampu bersaing secara efektif dengan pemain global. Apple perlu beradaptasi dengan realitas baru ini jika ingin tetap relevan dan sukses di China. Pergeseran ini tidak hanya berdampak pada Apple, tetapi juga pada seluruh industri smartphone global, yang menunjukkan kekuatan dan potensi pasar China yang terus berkembang. Ke depan, persaingan di pasar smartphone China diperkirakan akan semakin ketat, dengan merek-merek lokal dan asing saling bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar dan hati konsumen. Siapa yang akan muncul sebagai pemenang, hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti: masa depan smartphone di China akan ditentukan oleh inovasi, harga, dan kemampuan untuk memahami dan memenuhi kebutuhan konsumen lokal. Dan saat ini, merek-merek China memegang keunggulan yang signifikan.





