Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki keragaman agama yang sangat kaya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, dari total penduduk Indonesia sekitar 273,5 juta, 85,7% di antaranya beragama Islam, 10,8% Kristen Protestan, 3,1% Katolik, 1,7% Hindu, 0,7% Buddha, dan 0,2% Konghucu. Keragaman agama ini seringkali menjadi ujian bagi toleransi beragama di Indonesia. Namun, di balik tantangan, Indonesia telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga harmoni antar umat beragama.
Toleransi beragama di Indonesia tidak hanya tercermin dari keberagaman agama itu sendiri, tetapi juga dari sejarah dan budaya yang membentuk bangsa ini. Sejak zaman kolonial, Indonesia telah menjadi rumah bagi berbagai agama dan etnis, yang hidup bersama dalam harmoni. Misalnya, di Jawa, ada tradisi “abangan”, yaitu sinkretisme antara Islam dan kepercayaan lokal. Ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki tradisi toleransi beragama yang kuat sejak lama.
Namun, toleransi beragama di Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1960-an, Indonesia mengalami kerusuhan agama yang parah, terutama antara umat Islam dan Kristen. Konflik ini dipicu oleh perbedaan pandangan tentang agama dan negara. Pemerintah Orde Baru kemudian mengeluarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1969 tentang Pemberantasan Penodaan Agama, yang dianggap oleh beberapa pihak sebagai upaya untuk membatasi kebebasan beragama.
Meskipun demikian, Indonesia telah membuat kemajuan signifikan dalam meningkatkan toleransi beragama. Pada tahun 2002, pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Hak Asasi Manusia, yang menjamin kebebasan beragama bagi semua warga negara. Selain itu, pemerintah juga telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan dialog antar agama dan mempromosikan toleransi beragama melalui program-program pendidikan dan kesadaran masyarakat.
Salah satu contoh nyata dari toleransi beragama di Indonesia adalah tradisi ” Nyepi” di Bali. Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan dengan cara berdiam diri dan berpuasa selama 24 jam. Pada hari itu, semua aktivitas di Bali dihentikan, termasuk penerbangan dan kegiatan ekonomi. Namun, umat non-Hindu di Bali juga ikut serta dalam perayaan ini dengan cara menghormati dan menghargai tradisi umat Hindu. Ini menunjukkan bahwa toleransi beragama di Indonesia tidak hanya tentang menghormati perbedaan, tetapi juga tentang menghargai keunikan dan kekayaan budaya masing-masing agama.
Toleransi beragama di Indonesia juga tercermin dari keberadaan berbagai organisasi dan lembaga yang mempromosikan dialog antar agama dan kesadaran masyarakat. Misalnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) telah bekerja sama dalam mempromosikan toleransi beragama dan mengatasi konflik agama. Selain itu, organisasi-organisasi seperti Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM juga telah berkontribusi dalam mempromosikan toleransi beragama dan kesadaran masyarakat.
Namun, tantangan bagi toleransi beragama di Indonesia masih ada. Pada tahun-tahun belakangan, Indonesia telah mengalami peningkatan intoleransi agama, terutama terhadap umat minoritas. Misalnya, pada tahun 2018, umat Ahmadiyah di Indonesia mengalami serangan oleh kelompok-kelompok intoleran. Ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan toleransi beragama di Indonesia.
Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah Indonesia harus terus mempromosikan toleransi beragama dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Selain itu, masyarakat sipil juga harus terus berperan aktif dalam mempromosikan toleransi beragama dan mengatasi konflik agama. Dengan demikian, Indonesia dapat terus menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam membangun harmoni antar umat beragama.
Dalam kesimpulan, toleransi beragama di Indonesia adalah sebuah proses yang terus berlangsung. Meskipun telah ada kemajuan signifikan, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Namun, dengan komitmen kuat dari pemerintah dan masyarakat sipil, Indonesia dapat terus menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam membangun harmoni antar umat beragama. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi negara yang lebih harmonis, toleran, dan sejahtera bagi semua warga negara, tanpa memandang agama atau etnis.