Di Indonesia, negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, toleransi beragama menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai negara yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 300 etnis dengan beragam latar belakang agama, Indonesia menjadi contoh nyata bagi dunia tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan kelemahan. Toleransi beragama di Indonesia tidak hanya merupakan konsep, melainkan sebuah praktik hidup yang digelorakan sejak dini dalam masyarakat.
Indonesia, sebagai negara yang menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” menunjukkan komitmen kuat terhadap keberagaman dan kesatuan. Semboyan ini, yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, menjadi landasan filosofis bagi bangsa Indonesia untuk menerima dan menghargai perbedaan, termasuk dalam hal agama. Dalam praktiknya, toleransi beragama di Indonesia tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kegiatan sehari-hari, pendidikan, hingga kebijakan pemerintah.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia menunjukkan contoh-contoh nyata dari toleransi beragama. Misalnya, saat hari raya Idul Fitri, umat Muslim yang baru saja menyelesaikan puasa Ramadan seringkali dijamu dan diberi penghormatan oleh tetangga non-Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan agama tidak hanya milik umat tertentu, tetapi juga menjadi bagian dari kegembiraan bersama. Demikian pula saat Natal, umat Kristen seringkali menerima ucapan selamat dan hadiah dari teman-teman Muslim dan non-Kristen lainnya, menandakan bahwa perayaan Natal juga dirayakan bersama.
Pendidikan juga menjadi salah satu sarana penting dalam memupuk toleransi beragama di Indonesia. Kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah tidak hanya mengajarkan ajaran agama masing-masing, tetapi juga memberikan pengetahuan dasar tentang agama-agama lain. Hal ini bertujuan agar siswa memahami dan menghargai perbedaan agama, serta memupuk rasa saling menghormati dan menghargai. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler seperti diskusi antar-agama dan kegiatan sosial kemasyarakatan juga sering diadakan untuk memperkuat ikatan antar-umat beragama.
Pemerintah Indonesia juga terus berupaya untuk memperkuat toleransi beragama melalui kebijakan-kebijakan yang mendukung. Salah satu contoh adalah kebijakan tentang hari libur nasional untuk perayaan agama-agama, termasuk Idul Fitri, Natal, Waisak, dan Nyepi. Kebijakan ini menunjukkan pengakuan dan penghormatan negara terhadap keberagaman agama di Indonesia. Selain itu, pemerintah juga membentuk lembaga-lembaga yang bertujuan untuk mempromosikan dan mengawal toleransi beragama, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Kerukunan Nasional (DKN).
Namun, seperti halnya di negara-negara lain, toleransi beragama di Indonesia juga menghadapi tantangan. Radikalisme dan intoleransi terkadang muncul, menimbulkan ketegangan antar-umat beragama. Oleh karena itu, diperlukan upaya terus-menerus dari semua pihak untuk memupuk dan memperkuat toleransi beragama. Pendidikan, dialog antar-agama, dan kebijakan pemerintah yang mendukung menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang lebih toleran dan harmonis.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Indonesia dapat belajar dari pengalaman negara-negara lain yang juga memiliki keberagaman agama. Misalnya, Singapura, yang memiliki kebijakan multikulturalisme yang kuat, menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan ekonomi dan sosial. Demikian pula, India, yang memiliki keberagaman agama dan budaya yang sangat luas, menunjukkan bahwa demokrasi dan toleransi dapat menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang harmonis.
Dalam kesimpulan, toleransi beragama di Indonesia menjadi contoh nyata bagi dunia tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan kelemahan. Dengan memupuk dan memperkuat toleransi beragama melalui pendidikan, dialog antar-agama, dan kebijakan pemerintah yang mendukung, Indonesia dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis dan sejahtera. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk terus memupuk dan memperkuat toleransi beragama, sehingga keberagaman dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan, bukan memecah belah.